Dalam cerita fiksi ini menceritakan tentang seorang tetangga ataupun teman yang hanya memetingkan ego sendiri dan merasa dirinya seorang yang berjasa terhadap teman ataupun tetangganya, dimana yang diceritakan seorang Tiwi (Nama samaran/fiktif) adalah tipe tetangga/teman yang mudah tersinggung dan selalu menuntut balas budi orang lain kepada dirinya, setiap tetangga yang tidak sesuai dengan seleranya selalu dimusuhi dan tipe seperti ini sangat banyak ditemukan disekitar kita bukan berarti kita harus menjauhi ataupun memusuhinya cukup berteman/bertetangga biasa saja jaga jarak kalau bisa jangan mengharapkan bantuan darinya karena itu bisa jadi senjata utamanya menjatuhkan kita bila sudah tidak akrab lagi.


Fenomena Bertetangga dan Berteman


Cerita ini mungkin hanya karangan fiktif baik nama-nama yang ada didalam cerita, namun cerita ini pasti memiliki alur cerita sesuai pengalaman penulisnya.

Note : Sebagian alur cerita  sudah diedit agar lebih mudah dibaca dan dipahami pembaca, dan kosa kata sebagian diperhalus untuk cerita asli bisa dibaca pada sumber dibawah ini.

sumber : Cerita ini dikutip dari laman facebook GaunPestaMuslim/posts/3383840914974290?_rdc=1&_rdr

 = Fenomena Kehidupan Bertetangga =


"Eh, tau ga bu ibu , waktu kemarin aku ada acara hajatan, Ibu Mita memberi aku beras banyak banget loh kalau tidak salah sekitar 50kg gitu. Berasnya yang bagus pula kwalitas Premium", dan  Bu Tina seakan kagum dengan Bu Mita yang telah berbaik hati memberi bantuan berupa beras.

Saya pun tak heran lagi mendengar itu, karena waktu saya syukuran rumah pun, waktu saya pesan beras ke Bu Mita sebanyak 20kg, dan dia pun menolak untuk dibayar berasnya, jadi ibu Mita memang orangnya baik banget.

"Oh gitu ya, nanti saya akan ada acara aqiqah nih, apa Bu Mita nanti akan kasih saya beras juga ga ya ?" ( Bu Tiwi seakan berharap )

"Mudah-mudahan bu, karena Bu Mita orangnya loyal kok tidak pelit dia orangnya." (Bu Tina meyakinkan ibu Tiwi)

Undangan acara aqiqah anaknya Bu Tiwi pun sudah disebar. Dan tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk acara Aqiqah tersebut. (Bu Tiwi tampak gelisah)

"Bu ! acaranya tinggal 2 hari lagi ya, ada yang perlu saya bantu?" Saya menawarkan bantuan.

"Saya lagi bingung ini bu, mau order beras buat acara Aqiqah anakku tapi takutnya Bu Mita ngasih beras, kan jadi dobel berasnya ntar." (Bu Tiwi tampak kesal.)

" Loh bu, acaranya kan sebentar lagi ? Order saja sama ibu Mita, paling juga ntar beliau tak mau dibayar berasnya." (Saya heran dengan Bu Tiwi yang banyak berharap)

" Ah ... ! saya malas kalau gitu, kalau saya order berarti dia memang tidak ada niat untuk memberi. Beda ya, gak kayak ke Bu Tina caranya." (Bu Tiwi semakin mengerucutkan bibirnya/kesal)

"Kalau ibu masih berharap, ya sudah tunggu besok saja, siapa tahu ibu Mita ngasihnya besok." (Saya pun segera pergi meninggalkan ibu Tiwi)

Esok harinya, Bu Tiwi datang ke rumah ibu Tina.

"Bu ..., Bu Mita itu memang tidak ada niatan ya memberi saya beras ? kalau begitu saya mau beli aja sama orang lain. " (Bu Tiwi seakan memendam kecewa)

Saya pun tak bisa menjawab apa-apa.

Tak lama dari kejadian itu, Bu Tiwi membuat status di media sosialnya dengan tujuan menyindir ibu Mita

"Kalau berbuat baik itu jangan pilih-pilih orang, ibu-ibu yang lain kalau ada acara pada dikasih beras. Kok  saya ada acara gak dikasih ? Ada apa dengan saya ?"

Tiba-tiba ada pesan WA di ponsel saya (ibu Tina)  pesan dari Bu Mita.

[Bu ... sudah baca statusnya Bu Tiwi belum ? Apa statusnya itu ditujukkan untuk saya ya? Kalau iya, saya memang lagi di kampung halaman, jadi saya tak sempat memberi beras pada Bu Tiwi, saya balik kesana kayaknya juga bulan depan soalnya ada urusan yang belum selesai di kampung ]

Saya juga merasa bingung harus menjawab apa, karena memang status Bu Tiwi itu ditujukkan untuk Bu Mita. Akhirnya saya balas seperlunya.

[ Saya juga  pun kurang tahu bu, oh... ibu lagi di kampung sekarang ? kalau begitu nanti saya sampaikan ke ibu Tiwi ya, kalau ibu tak bisa hadir ke acara aqiqah anaknya Bu Tiwi karena ibu ada urusan di kampung.]

[Iya bu, saya barusan chating dengan Bu Tiwi untuk memastikan statusnya itu. Dan beliau marah-marah sama saya bu, saya dimaki-makinya  lantaran saya tidak memberinya beras. Padahal saya sudah menjelaskan kalau saya lagi di kampung. ]

[Oh ... gitu ya, sabar ya bu.]

Percakapan kami pun berakhir, karena saya tak mau memperpanjang gibah/menceritkan kejelakan orang.

Gara-gara masalah sepeleh itu, Bu Tiwi dan Bu Mita pun menjadi tak akur. Padahal hanya gara-gara masalah sepele.

***
Kemudian Bu Tiwi kini sangat akrab dengan Bu Tina, hampir kemana-mana selalu berdua. Ketika saat anak sulung Bu Tiwi sakit pun, anak yang lain dititip kepada ibu Tina.

Tok ... tok ... (suara pintu rumah saya di ketok)  tak lama saya pun membukanya.

"Eh ... Bu Tina, ada apa bu ?"

"ini bu, kebetulan hari ini saya lagi masak pepes ikan mas bu, ini saya bawakan buat ibu, sekadar cicip - cicip, tapi tak banyak bu." (Bu Tina memberi pepes ikan yang dimasukkan ke dalam kotak tupperware untuk penulis cerita ini)

" Oh iya, terima kasih banyak ya bu, kebetulan saya juga belum masak. Bisa langsung di santap nih pepes ikanya, hehe." (Saya mengambil kotak itu.)

"Iya bu, maaf  ya bu bila masakannya kurang enak," Bu Tina pun tersenyum dan langsung berpamitan.

Esok harinya saya memasak sayur lodeh dan terpikir untuk mengisi kotak tupperware Bu Tina dengan sayur lodeh saja agar sekalian dipulangkan kembali tupperwarenya.

Ketika saat di jalan saya berpapasan dengan Bu Tiwi.

" Bawa apa bu? Mau kemana?" Bu Tiwi bertanya penuh selidik.

"Mau ke rumah Bu Tina bu, balikin tupperware." Saya tak berpikir apa-apa.

"Tupperware bekas apa aya bu?" Bu Tiwi tampak penasaran.

" Kemarin itu ibu Tina ngasih saya pepes ikan mas bu, enak ya bu pepesnya ? Bu Tiwi dapat juga kan ? " (Dengan polos saya berkata.)

Bu Tiwi mengangguk pelan.

Sore hari Bu Tina datang lagi ke rumah, kali ini tak bawa lagi pepes ikan, tapi mukanya sembab dan bengkak. Seperti habis menangis.

"Ada apa bu?" Saya pun bertanya heran.

"Bu ..., tadi siang Bu Tiwi melabrak saya. Katanya kenapa saya tak memberi pepes ikan padanya, dia maki-maki saya bu, dan bicaranya sangat kasar. Padahal sudah saya jelaskan. Waktu ke rumahnya, ga ada orang di rumah. Tetangganya pun pada sepi, jadi ga ada orang untuk bisa menitipkan makanan tersebut. Saya mau simpan di kulkas takutnya udah ga enak karena dingin, Lagian masa ngasih makanan yang kemarin? Bagusnya kalau ngasih orang kan masih hangat-hangat dan baru matang kan ya bu." Bu Tina panjang lebar sambil sesenggukan menangis.

Saya pun jadi merasa bersalah mungkin ini gara-gara Bu Tiwi ketemu saya kemarin pagi itu. Saya juga tidak tau kalau Bu Tiwi gak dapat pepes ikannya. Saya kira ya pasti dapat karena mereka sangat akrab !  Jadi, dengan polosnya saya berkata apa adanya.

Semenjak itu, Bu Tiwi dan Bu Tina pun tak akur. Dan lagi-lagi karena masalah sepele.

***
Saya jadi merasa ngeri juga dengan tipe orang seperti Bu Tiwi. Apa jangan-jangan nanti saya mengalami hal yang sama dengan ibu Mita dan ibu Tina. Ah .. kalau begitu mending saya  jaga jarak saja. (dalam hati penulis cerita ini)


setelah kejadian  tersebut, ibu Tiwi semakin sering main ke rumah saya (rumah penulis cerita ini). Saya pun tak bisa menghindarinya, Tak enak kan masa orang datang main kerumah, kitanya malah menghindar. Jadinya, kami tampak akrab, Sampai pada suatu saat Bu Tiwi menawarkan bantuan ketika saya (penulis) lagi repot beres-beres dan masak di rumah, dan anak saya juga belum ada yang jemput dari sekolahan.
" kemudian ibu Tiwi pun langsung mengajukan bantuan ! Saya aja yang jemput anak ibu ... gak apa-apa kok buk lagian jarak sekolahnya deket ini juga, kebetulan saya pun lagi gak ada kerjaan. " (Bu Tiwi seperti memaksa.)
Akhirnya saya pun mengiyakan tawaran ibu Tiwi tanpa berpikir apa-apa.
Selain itu, Bu Tiwi juga sering sekali menawarkan bantuan yang lain-lain. Seperti, mengantar saya ke pasar, padahal sebenarnya saya pun tak mau merepotkan orang lain. Tapi lagi-lagi dia memaksa agar mau dibantu olehnya, ibu Tiwi Juga  menawarkan bantuan untuk menjaga anak saya yang masih kecil, padahal saya sudah tak enak karena sudah terlalu banyak bantuan yang dia berikan ke saya.
Tak lama kemudian, ketika saya habis pulang dari kampung halaman Dan Bu Tiwi sepertinya belum pulang juga dari kampungnya. Oleh-oleh dari kampung untuk buat ibu Tiwi saya simpan saja dulu, nanti kalau dia sudah pulang baru saya kasih oleh-olehnya. Untuk tetangga yang lain sih sudah saya kasih, terutama yang dekat-dekat rumah.
Lama menunggu tetapi Bu Tiwi tak kunjung pulang juga, sudah hampir 2 bulanan dan oleh-oleh buat ibu Tiwi pun sudah tampak mulai bau tengi dan berjamur, karena berbentuk makanan,  akhirnya dengan rasa sayang saya buang oleh-oleh buat Bu Tiwi karena tidak bisa dimakan lagi.
Seminggu kemudian setelah saya buang oleh-oleh tersebut, Bu Tiwi pun pulang dari kampung halamanya. Dan ia datang ke rumah saya membawa oleh-oleh. Saya pun sudah mempersiapkan makanan yang lain untuk pengganti oleh-oleh yang sudah berjamur tadi.
Tak lama dari itu. Esoknya Bu Tiwi datang ke rumah, mungkin seperti biasa ia mau main pikir dalam hati saya.
"Bu, kok oleh-oleh yang buat saya beda ya dengan ibu-ibu yang lain? Lagian oleh-oleh buat saya itu di sini juga ada. Bukan makanan khas kampung." gesture tubuh dan nada bicara Bu Tiwi tampak tak ramah.
Saya pun menjelaskan letak masalahnya. Karena Bu Tiwi yang tak kunjung pulang dari kampung halaman, dan oleh-oleh untuk buat ibu juga sudah tak layak makan,  jadi terpaksa diganti dengan makanan yang lain.
Tetapi Bu Tiwi tetap tak terima. Ia tetap menyangka saya pilih kasih.
"Makanya kalau beli oleh-oleh yang tahan lama dong! Ga ingat ya dengan semua bantuan yang pernah saya berikan? Apa anda lupa? Jadi ini balasannya? Pilih-pilih kasih memberi oleh-oleh. " Bu Tiwi memaki dan mengungkit segala bantuan dan kebaikan yang pernah ia lakukan untuk saya.
Sejak saat itu saya dengan Bu Tiwi  pun menjadi tak akur. setelah itu Kini Bu Tiwi sedang mendekati lagi ibu-ibu lain untuk menjadi teman akrabnya dan entah drama apa lagi yang akan terjadi setelah berteman dengan ibu-ibu yang lain.
--------

Pasti orang seperti Bu Tiwi akan ada saja di sekitar kita. Itulah keunikan sifat seseorang. Jika kita bertemu dengan orang seperti Bu Tiwi, harap hati-hati. Karena pasti suatu saat nanti kita akan kena juga. Masalah sepele dan dijadikan besar, hingga tak mau akur lagi.

Dan perkataan Bu Tiwi yang telah memaki dan kasar. Itu sudah menyakiti hati orang lain.
Harap hati-hati jika ada yang menawarkan bantuan dengan memaksa dan berlebihan. bisa  jadi itu akan dijadikan senjatanya agar kita punya hutang budi dengannya, dan suatu saat bila kita tidak akur karna masalah sepeleh kebaikan yang diberikannya akan  diungkit-ungkit terus.
Semoga kita bisa lebih bijak dan dewasa ketika kita sudah berstatus ibu-ibu. Carilah sahabat yang banyak, bukan musuh.
Jangan selalu berharap diberi oleh orang lain, posisi Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah (artinya : memberi lebih baik daripada menerima). Jangan pula iri jika orang lain dapat rezeki dan kita gak dapat. Mungkin memang bukan rezeki kita. Dan memberi tanpa mengharapkan balasan itu lebih mulia.
-Yanti Yuliyanti KBM-

Fenomena Bertetangga dan Berteman

Subscribe to receive free email updates: